Tampilkan postingan dengan label kisah kisah tauladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah kisah tauladan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Rahasia Dagang Orang China


sedikit cerita tentang rahasia bisnis orang cina yg bisa kita teladani demi kemajuan kita

 

Ann Wan Seng, pengusaha Cina sekaligus penulis buku-buku bestseller, lahir dari keluarga pedagang. Sejak kecil, ia sudah mengikuti dan membantu orang tuanya berdagang. Berdasarkan pengalaman dan pengamatannya , ia menyimpulkan cara orang Cina berdagang , agak berbeda dengan kaum dan bangsa lain.

Mereka mempunyai pandangan, cara, konsep, dan falsafah dagang tersendiri. Orang Cina jarang berbagi petuah dan rahasia berdagangnya pada orang lain. Petuah dan rahasia dagang inilah yg sesungguhnya menjadi senjata utama keberhasilan orang Cina dalam perdagangan serta bidang ekonomi lainnya.

Melalui bukunya, Rahasia Bisnis Orang Cina (Hikmah: 2007) Ann mencoba memaparkan sebagian rahasia dan petuah dagang orang Cina tersebut. Buku ini di klaim sebagai buku bisnis paling laris di Malaysia pada tahun 2006. Kita menyadari bahwa untuk menjadi pedagang yang berhasil, seseorang perlu memiliki wawasan dan pandangan yang dapat melihat jauh kedepan. Selain itu, di tuntut juga komittmen, disiplin, kesabaran, kekuatan,dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Perdagangan adalah bidang yang dapat dipelajari dan tidak menjadi monopoli masyarakat tertentu. Itu adalah nilai-nilai universal yang dapat diterapkan oleh siapa saja yang ingin menjadi pedagang. Namun, harus diakui usaha-usaha untuk mematahkan dominasi orang Cina di bidang ekonomi, samapai saat ini masih belum berhasil dilakukan. Hal ini, kata Ann Wan Seng, karena hubungan perdagangan di antara orang Cina begitu erat sehingga tidak dapat dipisahkan.

Menurut Ann, orang Cina adalah bangsa yang fleksibel, mudah berubah, dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang bagaimanapun. Mereka akan dapat hidup dan mencari makan dimanapun mereka berada. Inilah salah satu kepandaian orang Cina.

Orang Cina bisa berdagang dimana saja termasuk di kawasan yang paling tidak produktif sekalipun. Hal ini senada dengan ungkapan bahwa " orang Cina bisa berdagang di kampong Melayu, tetapi orang Melayu belum tentu bisa berdagang di kawasan orang cina". Kita memang dapat melihat bahwa orang Cina memang mudah berkembang dimana saja. Lihat saja di kota-kota yang ada di Indonesia, pengusaha Cina berkembang pesat. Mengapa bisa demikian? Hal itu dikarenakan totalitas bahwa orang cina selalu menginginkan perubahan secara total, maka hijrah adalah sebuah keharusan. " Orang itu harus hijrah bukan saja secara fisik melainkan juga mental, jiwa, dan mendekatkan diri pada-Nya."

Keinginan seseorang untuk berubah adalah kunci utama keberhasilan orang Cina, " ujar Ann Wan Seng namun, bukan tanpa kegagalan mereka berdagang. Nasib gagal tidak dijadikan alas an untuk menerima kekalahan dalam perdagangan mereka. Setiap pedagang Cina dapat mengambil hikmah dan belajar dari kegagalanya. Mereka mengevaluasi segala kekurangan, kelemahan, kesalahan, dan kegagalan. Mereka terus belajar dari segala kegagalan itu, kegagalan pertama tidak dapat melunturkan semangatnya, justru akan membuatnya lebih gigih. Kegagalan yang kedua dijadikannya sebagai pelajaran. Kegagalan yang ketiga menjadikanya lebih bijak. Kegagalan yang seterusnya akan menguji kesabaran dan ketabahannya. Gagal dalam beberapa kali bagi orang Cina tidak berarti akan gagal untuk seterusnya. Ann WanSeng mengatakan " orang Cina percaya dan yakin mereka pasti akan berhasil suatu hari nanti." Usaha orang Cina dalam mengalami kegagalan dan menghadapi persaingan adalah dengan terus belajar dan meningkatkan etos kerjanya. Mau tak mau, kinerja mereka tingkatkan. Tokoh konglomerat Korea Selatan Kim Woo Choong, pernah menyatakan, "jika kita sama rajinnya dengan orang-orang di barat (Cina), kita tidak akan dapat menyaingi mereka. Jika ingin lebih berhasil dari orang lain kita tidak punya pilihan, kecuali bekerja dengan nlebih giat dan rajin".

Barangkali akan aneh dan "GILA" jika dilihat oleh orang Indonesia tentang hal dibawah ini, bahwa orang Cina yang sudah berhasilpun ternyata masih menjaga etos kerja tingginya. Mereka bangun dan mulai bekerja sepagi mungkin dan tidur menjelang tengah malam. Jumlah jam kerja mereka melebihi jam kerja orang lain. Jika pekerja biasa bekerja 8-10 jam sehari, mereka bekerja antara 16-18 jam sehari. Mereka bukannya gila kerja, melainkan pekerja keras. Mereka juga tidak berhenti ketika telah berhasil mencapai tujuan, karena perjalanan dalam perdagangan masih panjang " satu tujuan terlewati, tujuan yang lain sudah menunggu". Ujar Ann Wan Seng. Orang Cina rela untuk bangun dinihari dan trerus bekerja sampai malam hari.

Mereka bekerja keras. Sinonim dari kerja keras adalah tekun. Ketekunan merupakan salah satu factor keberhasilan orang Cina dalam kegiatan berdagang. Tidak ada alasan bagi sesorang untuk tidak menjadi sukses jika mereka tekun dan rajin, seperti halanya orang cina. Ada sebuah pertanyaan menarik, mengapa orang Cina identik dengan berdagang, menurut Ann Wan Seng orang Cina dan perdagangan sudah bersatu padu serta menjadi satu entitas yang tidak dapat dipisahkan. Mereka yang berdagang sama dengan bekerja untuk diri sendiri. Ini lebih baik daripada bekerja dengan dan untuk orang lain.

Orang yang bekerja dan mendapat gaji dianggap belum dewasa. Sejak kecil mindset orang Cina sudah ditanamkan agar tidak bergantung pada orang lain. Mereka memiliki kemampuan dan potensi. Untuk membuktikannya dengan cara melibatkan diri dalam kegiatan perdagangan. Berdagang dapat menjadikan seseorang lebih bijak, disiplin, dan tahan banting. Orang Cina tidak suka mendapat gaji. Golongan yang mendapat gaji tidak memiliki kedudukan social yang tinggi dalam masyarakat. Orang cina dianjurkan berdagang meskipun hanya kecil-kecilan, pendapatannya mungkin lebih kecil dibandingkan mereka yang mendapat gaji, tetapi akan dianggap lebih baik dibandingkan bekerja pada orang lain. Berdagang berarti seseorang dapat menjadi bos dan tuan.

Sementara, bekerja dengan orang sampai kapanpun akan dianggap sebagai kuli. Orang yang berdagan dikatakan berani dan hanya orang yang beranilah yang memiliki kesempatan menjadi kaya dan sukses. Sedikit tips dari Ann Wan Seng tentang rahasia sukses berdagang orang Cinabahwa pedagang tidak boleh mengharapkan keuntungan pada saat baru mulai perdagangannya, mereka harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan seperti kerugian dan kegagalan pada tahap awal. Untuk itu,mereka harus mempunyai modal yang kuat dan sumber keuangan yang dapat digunakan selama masa krisis itu.

Keuntungan yang diperoleh sebaiknya tidak dibelanjakan, keuntungan harus digunakan untuk menambah modal kerja dan melakukan investasi, investasi bisa berupa saham, deposito, asuransi, ataupun berupa emas. Keuntungan yang bakal diperoleh bergantung pada berapa banyak investasi yang sudah dilakukan. Satu hal yang tidak boleh dilupakan juga, jangan sekali-kali menghardik pelanggan, karena mereka membayar bukan untuk mendapatkan kata-kata yang tidak enak di dengar, siapkah kita meneladani cara berdagang orang Cina?? Bukankah Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita untuk menimba ilmu walau sampai ke negeri Cina?

Kamis, 17 Januari 2013

Kisah Muallaf Felix Siauw


Kisah Muallaf  ( felix siauw: aku menemukan islam )




Sangat sedikit manusia yang menggunakan akalnya untuk menemukan Tuhannya dan jati dirinya. Padahal kalau mau jujur dan jernih berpikir siapapun akan menemukan kebenaran Islam. Pengalaman Felix Siauw (24 tahun) bisa menjadi pelajaran. Berikut kisahnya :
Jika kamu masih mempunyai banyak pertanyaan, maka kamu belum dikatakan beriman, Iman adalah percaya apa adanya, tanpa reserve”. Begitulah kira-kira pernyataan yang akan selalu aku ingat di dalam hidup ini.
Waktu itu aku masih seorang penganut Kristen Katolik. Di usiaku yang masih 12 tahun, banyak pertanyaan tentang kehidupan yang belum terjawab. Ada tiga pertanyaan yang paling besar yang muncul dalam benakku, yaitu darimana asal kehidupan ini, untuk apa adanya kehidupan ini, dan akan seperti apa akhir kehidupan ini. Lalu, “Kenapa tuhan pencipta kehidupan ini ada tiga, yakni ada tuhan bapa, tuhan putra dan roh kudus? Darimana asal tuhan bapa?”, atau “Mengapa tuhan bisa disalib dan dibunuh lalu mati, lalu bangkit lagi?” Aku diskusikan itu dengan orang tuaku atau dengan rohaniawan, tapi jawabannya mengambang dan tak memuaskan.

Ketidakpuasan itu lalu mendorongku untuk mencari jawaban langsung dari Alkitab yang katanya datang dari tuhan. Betapa terkejutnya aku, aku baru tahu jika 14 dari 27 surat di Injil perjanjian baru ternyata ditulis oleh manusia, yaitu Santo Paulus. Lebih terkejut lagi ketika mengetahui bahwa sisa kitab yang lainnya juga merupakan tulisan tangan manusia yang dibuat setelah wafatnya Yesus. Konsep trinitas yang menyatakan tuhan itu tiga dalam satu dan satu dalam tiga ternyata adalah hasil konggres di kota Nicea pada tahun 325 M.

Setelah mengetahui itu, kuputuskan bahwa agama yang kuanut tidaklah pantas untuk dipertahankan. Aku pun memutuskan untuk menjadi seorang yang tidak beragama, tetapi tetap percaya kepada Tuhan. Aku berkesimpulan bahwa semua agama tidak ada yang benar, karena sudah diselewengkan oleh penganutnya. Tanpa sadar waktu itu aku sudah menjadi manusia yang sinkretis dan pluralis.


Bertemu Ustad Muda

Waktu terus bergulir. Ketika aku kuliah di IPB memasuki semester ketiga, pemahamanku mulai berubah. Itu bermula dari perdebatanku dengan seorang teman tentang kebenaran. Syamsul Hadi, demikian nama temanku itu, mengatakan bahwa kebenaran hanya akan ditemukan di dalam Alquran. Aku pun berusaha mencarinya. Aku lalu dipertemukan dengan Ustad Fatih Karim, aktivis Islam. Lewat pertemuanku dengannya di Masjid Kampus itulah, perkenalanku dengan Alquran dimulai. 

Kepadanya, aku menceritakan tentang pengalaman hidupku termasuk berbagai pertanyaan besar yang belum terjawab tentang kehidupan. Kami lalu berdiskusi hingga mencapai suatu kesepakatan tentang adanya Tuhan pencipta alam semesta. Aku pun akhirnya paham bahwa adanya Tuhan, atau Sang Pencipta memanglah sesuatu yang tidak bisa disangkal dan dinafikan bila kita benar-benar memperhatikan sekeliling kita.

"Tapi masalahnya ada lima agama yang mengklaim mereka punya petunjuk bagi manusia untuk menjalani hidupnya. Yang manakah yang bisa kita percaya?" tanyaku saat itu.

"Apapun diciptakan pasti mempunyai petunjuk tentang caranya bekerja," jawab Ustad Fatih. Lalu ia menambahkan, "Begitupun juga manusia, masalahnya, yang manakah kitab petunjuk yang paling benar dan datang dari Sang Pencipta atau Tuhan yang Maha Kuasa?" Lalu dibacakanlah ayat dalam Alur'an: ”Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (TQS al-Baqarah [2]:2)


Mendengar ayat itu, aku terpesona dengan ketegasan, kejelasan serta ketinggian maknanya. ”Mengapa penulis kitab itu berani menuliskan seperti itu?” pikirku.


Seolah membaca pikiranku, Ustad Fatih melanjutkan, "Kata-kata ini adalah hal yang sangat wajar bila penulisnya bukanlah manusia, ciptaan yang terbatas, Melainkan pencipta. Not creation but The Creator. Bahkan Alquran menantang manusia untuk mendatangkan yang semacamnya!"


Pikiranku saat itu bergejolak. Dalam hatiku berkata, "Mungkin inilah kebenaran yang selama ini aku cari!". Tetapi ada beberapa keraguan di benakku. ”Mengapa agama yang sedemikian hebat malah terpuruk, menjadi pesakitan, hina dan menghinakan dirinya sendiri?" tanyaku.

Ustad itu menjelaskan bahwa Islam tidak sama dengan Muslim. Islam sempurna, mulia dan tinggi, tidak ada satu pun yang tidak bisa dijelaskan dan dijawab dalam Islam. Islam adalah sistem kehidupan. Sangat luar biasa penjelasannya. Sesuatu yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Aku pun mulai sadar akan kelebihan dan kebenaran Islam. Keraguanku mulai luntur.


Masuk Islam

Aku pun akhirnya bisa menemukan jawaban sempurna atas ketiga pertanyaan besarku. Ternyata aku ini berasal dari Sang Pencipta dan itu adalah Allah SWT. Aku hidup untuk beribadah kepada-Nya sesuai dengan perintah-Nya yang tertulis di dalam Alquran. Alquran itu dijamin datang dari-Nya. Setelah hidup ini berakhir, kepada Allah lah aku akan kembali dengan membawa amal ibadah selama hidup untuk dipertanggungjawabkan sesuai dengan aturan yang diturunkan oleh Allah. Setelah yakin dan memastikan untuk jujur pada hasil pemikiranku ini, maka aku memutuskan, ”Baik, kalau begitu saya akan masuk Islam!"


Banyak tantangan setelah itu. Maklum aku hidup dalam lingkungan keluarga yang sangat tendensius kepada Islam. Di mata mereka orang Islam itu jahat dan jorok. Orang tuaku bilang aku sinting dan kerasukan setan. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak akan mengorbankan kebenaran yang kucari selama ini. "Tidak, sama sekali tidak,” pikirku. Aku yakin bahwa Allah lah yang harus didahulukan. Kini orang tuaku bangga kepadaku.

Setelah masuk Islam, aku menemukan ketenangan sekaligus perjuangan. Aku bangga kepada Islam. Mudah-mudahan, sampai akhir hidup, aku dan keluargaku, tetap berada di barisan pembela Islam yang terpercaya. Janji Allah sangat jelas, dan akan terbukti dalam waktu dekat. Allahu Akbar!